30 Desember 2008

JOURNEY





















Beijing Muslim Tour” Bersama Toyayatra Tour and Travel


Jelajahi Waktu di Forbidden City, Beijing


Beijing, sebuah kota metropolitan di wilayah utara Republik Rakyat Cina (RRC). Ia juga merupakan ibu kota RRC, satu dari empat kotamadya, yang sebanding dengan provinsi dalam struktur administrasi pemerintahan RRC. Berbatasan dengan provinsi Hebei di utara, barat, selatan dan beberapa bagian di timur, dan dengan Tianjin di wilayah tenggara.


Kota ini memiliki penduduk sebesar 14 juta jiwa dan merupakan kota terbesar kedua di Cina setelah Shanghai. Penghubung transportasi utamanya adalah dengan menggunakan jalur kereta api, jalan raya dan jalan tol di segala penjuru kota. Beijing juga merupakan titik utama untuk penerbangan internasional ke Cina. Beijing merupakan pusat politik, pendidikan, dan kebudayaan di Cina, di mana Shanghai dan Hong Kong menjadi pusat perekonomian.


Negeri Tirai Bambu ini punya warisan budaya dan sejarah yang tak pernah habis mengundang decak kagum dunia. Selain Great Wall (Tembok Cina) dan Lapangan Merah (Tiannanmen), Forbidden City adalah satu di antaranya. Wisatawan yang datang selalu penasaran dan ingin lihat lebih dekat bukti-bukti sejarah yang ada di sana.


The Forbidden City atau dalam bahasa China disebut Zijin Cheng terletak di tengah bandar kota Beijing. The Forbidden City merupakan pusat pemerintahan dan pusat tata kota Beijing tempo dulu. Situs sejarah yang dicatat UNESCO pada tahun 1987 sebagai salah satu warisan sejarah dunia ini berdiri megah di areal seluas 720.000 m2, terdiri atas 980 bangunan, dengan 8707 kamar–yang konon merupakan tempat tinggal para selir kaisar.


Kompleks istana ini dibangun tahun 1406 dan baru selesai pada tahun 1420. Masing-masing kamar tergabung dalam beberapa bangunan megah dengan arsitektur asli China yang menawan. Setiap bagian atap bangunan diukir dengan lukisan naga yang melambangkan kekuasaan sang kaisar.


Kawasan yang dilengkapi parit dan tembok setinggi sekitar 10 meter itu terbagi dalam dua bagian. Di bagian depan yang ada di bagian selatan, berisi enam bangunan utama tempat para kaisar menjalankan kegiatan mengurus kerajaan. Sementara di belakangnya atau bagian utara merupakan tempat tinggal kaisar dan keluarganya.


Warna kuning yang menjadi simbol kerajaan memang mendominasi warna keseluruhan dari Forbidden City ini, namun ada pengecualian untuk bagian atap dari perpustakaan. Mereka mewarnainya dengan warna hitam. Ini berkaitan dengan kepercayaan mereka yang menyatakan bahwa warna hitam adalah warna yang merepresentasikan air, yang dapat memadamkan api.


Di Forbidden City, bak terlempar ke masa lalu, mata terpuaskan oleh keindahan bangunan tradisionil China–sebuah bentuk arsitektur yang sangat kuat memengaruhi tidak hanya kebudayaan masyarakat Asia Timur. Pengamat arsitektur dunia menemukan bukan hanya Istana Kaisar Gia Long di Vietnam yang menjiplak secara persis bentuk Forbidden City, tapi juga bangunan The 5th Avenue Theatre di Seattle, Washington. Dari ceiling, panel pintu dan jendela, hingga kaca auditorium itu, tak pelak lagi, semua terinsipirasi Forbidden City.


Satu-satunya kekayaan yang mungkin tidak akan pernah berhasil dijiplak adalah peninggalan benda seni dan artefak-artefak sejarah yang tersimpan di Forbidden City yang kini juga dikenal sebagai Palace Museum. Menurut catatan pengelola, koleksinya mencapai 1,17 juta item. Meskipun sebagian koleksi ini juga disimpan di National Palace Museum, Taipei.


Dengan paket “Beijing Muslim Tour, 3 Hari 2 Malam” yang disediakan Toyayatra Tour and Travel, Meruya, Jakarta Barat Anda akan dibawa untuk menikmati kota sejarah nan indah, kental dengan nilai-nilai kultur leluhur China.


Selain Tianamen Square, Forbidden City, “Beijing Muslim Tour” juga menawarkan Xian. Di sana terdapat The Tang Dynasty Built Little Wild Goose Pagoda, Bell and Drum Tower Square, Great Mosque, Muslim Shooping Center. Satu hari di Xian dilanjutkan dengan Shanghai. Di sana kunjungi Yu Garden dan shopping center seperti Chenghuangmiao Market, Nanjing Shoppping Street, Silk Strore dan Xiaotaoyuan Mosque.


Kendati paket ini berlabel “Beijing Muslim Tour”, namun Putu Astiti Saraswati, Managing Director Toyayatra Tour and Travel, berujar, ”Tidak menutup kemungkinan untuk pengunjung yang berkeyakinan lain untuk serta merta dalam perjalanan ini.”


Tour and Travel yang semula hanya dibuka di Denpasar, Bali ini menawarkan destinasi Pulau Dewata sebagai yang lain dari yang pernah ada, yaitu “Bali Camping & Rafting Package”, yang bertempat di Toya Devasya Resort & Spa, tepi Danau Batur. Salah satu dari Paket ini memberikan suasana yang tottaly alam di mana peserta akan berkemah dengan fasilitas tenda yang bersih dan nyaman. (Bee)