30 Desember 2008

Tips and Tricks

Just One Click, and History Is Yours


“Time is not measured by passing of the years, but by what one does, what one feels, and what one achieves.” –Jawaharlal Nehru


Ada satu hukum universal jika kita berbicara tentang waktu, tentang momen-momen berharga dalam hidup, yakni we can’t turn back the time; waktu yang telah berlalu tak lagi bisa dikembalikan. Maka, tepatlah kutipan Nehru di atas –jika dikaitkan dengan niat mengabadikan momen berharga saat berwisata– bahwa apa yang kita lakukan dan rasakan mesti terdokumentasikan secara apik, karena belum tentu saat-saat berharga itu bisa kembali dirasakan.


Kamera adalah media yang paling umum digunakan untuk merekam momen-momen berharga Anda. Terlebih sejak teknologi digital juga merambah dunia fotografi. Siapa pun kini bisa memotret. Dengan kamera beresolusi tiga megapiksel ke atas, gambar yang Anda peroleh terbilang cukup aman untuk pembesaran, pencahayaan, dan kerapatan imej. Pilihannya kini tinggal bagaimana menajamkan intuisi untuk menentukan angle (sudut pandang) agar karya fotografi Anda enak dilihat, artistik, dan unik. Berikut beberapa tips untuk itu:


1. Spontanitas

Pose memang penting dalam dunia fotografi. Pose utamanya bermanfaat untuk mendapatkan gambar untuk aplikasi touching dan pencitraan. Akan tetapi dikenal juga istilah candid, di mana obyek foto tidak perlu repot berpose. Anda yang memegang kamera lah yang aktif mengabadikan semua polah obyek foto tanpa disadarinya. Contoh, memotret si kecil yang terjatuh di pasir pantai, wajah-wajah anggota keluarga yang berteriak senang di atas banana boat, atau wajah tegang pasangan saat bersiap meluncur dari flying fox.


2. Out of The Box

Dalam urusan foto, kita sering mendengar istilah tampak samping atau tampak depan. Cobalah sesekali bereksperimen dengan angle-angle yang tidak biasa, seperti: tampak atas, bawah, atau bahkan tampak belakang. Saat sunset misalnya, Anda bisa mengabadikan obyek yang menghadap matahari terbenam dari arah belakangnya. Cahaya matahari yang temaram akan menghasilkan siluet yang dramatis. Contoh lain, memotret dari atas isteri dan buah hati yang terlentang di atas rumput. Atau di tengah perkebunan teh, buat seolah-olah obyek tenggelam di “lautan” hijau daun teh, atau buat seakan-akan mereka berbaring di atas karpet hijau.


3. Manfaatkan Simbol

Saat tamasya ke luar kota Anda tentu pernah menjumpai gapura atau tugu yang menyatakan batas wilayah dan biasanya bertuliskan “Selamat Datang di…”. Gapura atau tugu itu sebenarnya bisa Anda manfaatkan sebagai latar belakang foto. Saat berkunjung ke sebuah obyek wisata kita juga acapkali menjumpai papan nama atau plang petunjuk arah fasilitas-fasilitas yang tersedia. Latar belakang simbol-simbol tadi bisa membuat foto lebih “faktual” dan mengingatkan secara langsung kapan dan di mana kita mengabadikannya.


4. Down to Earth

Saat makan malam di hotel, tidak ada salahnya berfoto dengan para waitress dengan seragamnya yang khas. Atau saat hiking berfoto dengan para jagawana, penduduk lokal, atau hal-hal lain yang membuat kita lebih membumi. Ini memang wisata Anda, tetapi tak salah rasanya jika Anda berbagi momen. Biasanya, cerita di balik sebuah foto baru akan terasa saat kita melihat-lihatnya lama setelah momen itu lewat. Awalnya mungkin terasa aneh, tapi percayalah, nuansa foto yang membumi dan inklusif akan lebih bercerita. Ini juga bisa menjadi awal dari sebuah persahabatan.


5. Get Set, Ready, and… Click!

Aba-aba, meski terkesan jadul, tetap dibutuhkan. Kata-kata seperti satu, dua, tiiga…, cheers, atau say A, say O… perlu untuk sengaja membuat foto terlihat spontan. Sebagai “mat kodak” tidak ada salahnya Anda memberi aba-aba pada obyek. Jika menggunakan self timer, hapalkan dan hitung waktu mulai saat Anda pertama memijit tuts hingga diafragma kamera terbuka atau lampu blitz menyala. Satu detik terakhir mulailah teriak cheers, atau pasang mimik ceria.



Di luar tips-tips memotret tadi, yang juga perlu Anda siapkan adalah baterai atau sumber energi cadangan, lampu blitz eksternal untuk jaga-jaga seandainya built-in flash tidak berfungsi secara maksimal, dan tripod. (BHR)